Sabtu, 16 September 2017

NDP Dalam Diam Kader PMII


*NDP Dalam Diam Kader PMII*

Oleh: Khairul Amin*

Manusia jangan menunggu hancur dulu baru insyaf (Emha Ainun Najib).

Sebelumnya, saya meminta maaf kepada Cak Nun telah lancang memamerkan sabda-sabda perubahannya ke khalayak umum, khususnya kepada Sahabat-sahabati di PMII. Jujur Cak, saya melakukan hal demikian bukan bermaksud memperkenalkan panjenengan apalagi hendak mendoktrin siapapun dengan modal kata-kata, tujuan saya satu: ingin membuat tulisan pendek yang menginspirasi. Jika Cak Nun nantinya menolak nama dan quote-nya dicatut, 30 menit mendatang saya akan ubah total atau menghapus-nya dari tulisan ini lalu menggantinya dengan orang lain. Tapi harapan terbesar saya, Cak Nun mengikhlaskan. Hehe...

Baiklah, anggap saja urusan saya dengan Cak Nun selesai dulu. Selanjutnya, saya hanya ingin mengatakan sedikit bahwa cendekiawan sekaliber Cak Nun begitu besar perhatiannya pada kata "menunggu". Dalam kata "menunggu" tersimpan energi positif-negatif yang terus berputar-putar menemukan puncak eksis-nya, berebut dominan menuju realitas. Dalam "menunggu" kita merasakan jiwa sedang berdilema, bercengkrama, berdialektika dengan alam. Dalam "menunggu" pula, bentuk "su'udzan dan husnudzan" akan nampak begitu jelas terlihat dari diri seseorang.

Pernahkah menunggu sesuatu atau bahkan seseorang? Pernahkah yang ditunggu terlambat atau bahkan tidak datang sama sekali? Apa yang akan kita lakukan jika menunggu-nya belum kunjung pasti, konsisten menunggu hingga yang ditunggu datang menghampiri atau memilih pergi karena terlanjur dikecewakan ?  Atau yang mengerikan, pernahkah kita menunggu lama-lama tapi yang datang bukan yang ditunggu? Jika pernah merasakan proses tunggu-menunggu begini, artinya kita telah berdiri diantara kegagalan proses dan kesuksesan proses.

Sikap menunggu ini bukan perkara sepele. Kalau boleh saya katakan, menunggu adalah satu-kesatuan yang menyatu dengan hidup itu sendiri. Di otak-otak cemerlang layaknya Cak Nun, "menunggu" ditafsirkan hal yang "diam" sehingga Cak Nun mengimbuhi kata "jangan" sebelumnya.  Dengan demikian, menunggu menjadi kata kerja yang pasif sehingga ditekan oleh cak Nun untuk aktif. Tak usah terlalu mengernyitkan kening begitu, sederhananya cak Nun sedang berusaha menyadarkan kita semua bahwa menunggu itu tak baik, lebih baik bergerak menuju baik sebelum jiwa atau jasad ini tak sempat merasakan kebaikan.

Menurut saya menunggu tak selamanya diam dalam arti fisik. Bagi saya, diam sebenarnya bergerak dalam hal lain. Wah kok bisa?  Saya tak bermaksud menjadi biang kerok segala masalah dalam hidup ini dengan menyampaikan kontroversi-kata tapi itulah uneg-uneg saya pribadi selama ini. Bukankah gerak-diam dua kata berantonim yang jelas berbeda? Mengapa bisa dikata diam berarti bergerak? Ah, mari saya luruskan.

Pertanyaan yang muncul seperti ini, benarkah ketika jasad diam, hati dan pikiran ikut terdiam? Benarkah? Tolong bantu dijawab. Saya rasa tidak. Kalaupun orang melihat saya "terdiam" di bawah pohon dengan tatapan kosong bukan berarti pikiran saya mandeg atau hati saya buntu dan nyangkut di ranting pohon, bukan?

Saya sepakat dengan Cak Nun, saya yakin Cak Nun menginterpretasikan "menunggu" tak sebatas fisik semata, melainkan lebih jauh dari itu. Sehingga Cak Nun tegas menyuarakan "jangan menunggu". Sampai di sini, Cak Nun akurat  dengan kredonya itu. Cak Nun memotivasi kita untuk menghadapi hidup tidak biasa-biasa saja, serius. Walau kelihatan santai dan menurut orang kita sedang diam "buktikan bahwa dalam diam kita sedang bergerak, hati dan pikiran kita tercurahkan atas suatu tujuan tertentu". Itulah makna esensial menunggu yang sedari tadi saya maksud.

Di PMII, ada Nilai Dasar Pergerakan, lebih lanjut disebut NDP. Dalam NDP, sebagai warga pergerakan senantiasa berpegang teguh pada hablum min-Allah, hablum min-Annas, hablum min-Al 'Alam. Apa sangkut pautnya? Kok ngawur gini yaa? Lagi-lagi perlu saya sampaikan. Bahwa nama "pergerakan" yang tersemat dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah representasi bahwa Mahasiswa PMII terus bergerak, tak pernah diam. PMII peka pada keadaan sosial Masyarakat dan menyadari betul terhadap tri-fungsi Mahasiswa sebagai agen of change, man of analysis, and social control. Diam menunggu-nya kader PMII adalah strategi, gerak-nya PMII adalah perwujudan kepedulian sosial.

NDP sebagai patokan primordiil PMII harus selalu dipegang erat walaupun kita dalam proses menunggu sekalipun. Dalam menunggu kita berdzikir dan berfikir, dan akhirnya beramal shaleh bagi seluruh umat ketika bergerak. Sejatinya, menunggu bagi kader PMII telah merealisasikan nilai dasar pergerakan. Buktinya? Dalam menunggu apapun, kader PMII melantunkan dzikir kepada Allah untuk meminta petunjuk dan kebaikan. Menunggu bagi kader PMII adalah proses berpikir mengencangkan intelektual guna semakin solutif mencari penyelesaian masalah yang ada, mencari inspirasi dari fenomena alam sekitar dengan analisis yang betul-betul tajam. Akhirnya, manusia-manusia dalam rangkulan PMII akan merasakan kenyamanan dan ketertiban.

Sudah jelas bukan, menunggu (baca: proses) di PMII itu bermanfaat. Maka dari itu jangan segan-segan berproses di PMII, eman-eman. Siapa tahu, dalam proses "menunggu" di PMII akan ada sahabat yang "tergerak" hatinya menemani sahabati yang lelah "menunggu"? atau sebaliknya ada sahabati yang "tergerak" hatinya mendukung sahabat-nya yang "menunggu" untuk mendapat teman hidup, bukan?. Hahaha

Bangkalan, 17 September 2017

Kader PMII Rayon Al-Amin Fakultas Hukum UTM

MEMBANGUN GERAKAN INTELEKTUAL DI PMII


MEMBANGUN GERAKAN INTELEKTUAL DI PMII

“Terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab  mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan indonesia”

Membaca kembali dan menginterpretasi ulang cita-cita besar yang termaktub dalam tujuan PMII adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap anggota dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. kalimat yang menjadi pembuka dari tulisan ini di atas adalah tujuan yang sebagaimana termaktub dalam AD/ ART PMII BAB IV pasal 4. yang fenomenanya pada saat ini masih banyak anggota atau kader PMII melupakannya.

Menilik sedikit secara historis, PMII merupakan organisasi mahasiswa yang hadir ke hadapan mahasiswa Nahdhiyyin akibat dari kegalauan dan keinginan mahasiswa NU untuk memiliki tempat berproses dan beraktifitas pada awal sebelum proses pembentukannya. karena wadah berjuang dan berproses yang mengusung cita-cita luhur bagi mahasiswa NU di perguruan tinggi pada saat itu belum secara resmi dimiliki sama sekali. hanya ada Ikatan Pelajar Nahlatul Ulama’ (IPNU) yang masih terfokus pada tingkatan pelajar di sekolah-sekolah. Tidak larut daripada itu Usaha-usaha pembentukan bermunculan, departemen perguruan Tinggi dibentuk dibawah IPNU namun belum bisa mengakomodir gerakan dan perjuangan mahasiswa NU. akhirnya Organisasi mahasiswa NU yang sekopnya lokal bermunculan. Hingga kemudian terbentuk sebuah organisasi yang bernama PMII, semuanya membutuhkan proses dan usaha yang begitu panjang dari para pendirinya.
Era sekarang Pada saat cita-cita pendahulu, dan tujuan dalam PMII jika hanya dijadikan slogan oleh mahasiswa pergerakan. Maka dapat dikatakan bahwa dosa sejarah dan dosa kaderisasi telah dilakukan oleh kader tersebut. Karena sejatinya cita-cita bukan hanya mimpi, bukan hanya  adagium yang tak dihormati, harus ada usaha yang dilakukan untuk mencapainya. Harus ada gerakan untuk menindaklanjutinya.

Kembali pada AD/ART PMII sebagai aturan tertinggi di dalam organisasi PMII, mewujudkan Manusia yang unggul dalam Hal keilmuan adalah salah satu point penting yang wajib diperhatikan, karena umat islam pada saat sekarang sedang menghadapi berbagai benturan pemikiran dan cemoohan sebagai umat yang tertidur, miskin, bodoh dan belum bisa menciptakan pemikiran-pemikiran besar seperti pada zaman keemasan islam. oleh sebab itu kemudian sebagai refleksi PMII mengajak kader-kadernya untuk kembali membudayakan berpikir, membaca, berdiskusi dan lain sebagainya untuk menunjang kapasitas keilmuan dan kreatifitas kader. dalam bahasa lebih gampangnya PMII mengajak melakukan gerakan intelektual.

mengembalikan PMII sebagai Gerakan Intelektual?
Pada tahun 1990-an sampai saat ini peran mahasiswa utamanya PMII seakan tidak cukup memuaskan apabila tidak disimplifikasi dengan kata-kata gerakan. Gerakan sebagai makna semantik dari prototipe dinamis, penuh idealisme, penuh dengan dedikasi, tanpa kompromi, solid, commited, militan dan terorganisasi
Gerakan intelektual bukanlah satu hal yang baru, akan tetapi banyak dilupakan utamanya oleh para aktivis-aktivis mahasiswa di perguruan tinggi. Padahal ketika secara umum membaca Tri dharma Perguruan tinggi poin pertama yang tidak dapat ditinggalkan oleh civitas akademika yang dalam hal ini salah satunya mahasiswa adalah pendidikan dan pengajaran yang tidak jauh dari pemahaman dan peningkatan kapasitas intelektual.

Hal tersebut juga senada dengan Tri Motto PMII yakni Dzikir, Fikir Amal Shaleh. Dimana Fikir tidak terlepas dari bagian yang harus dioptimalisasi setelah kualitas primordial manusia sebagai hamba Tuhan adalah wajib mengabdi dan menghambakan diri pada Allah. Hal tersebut terkandung dalam makna dzikir, sedangkan Fikir adalah bagian penting karena disana sebagai differensia atau pembeda absolut dari Makhluk Tuhan yang lainnya. Dari sana juga sudah tercermin keinginan akan cita-cita PMII agar kualitas kader PMII adalah berintelektual.

Bahkan tri khidmat PMII jika kita bisa memaknai bahwa khidmat adalah berbicara pengabdian setelah masuk dan sah sebagai anggota, kader, pengurus PMII aspek “Intelektual” juga menjadi poin penting dan utama di dalamnya.

Kembali pada tujuan PMII sebagaimana  awal, yang termaktub pada AD/ ART, ada garis besar tujuan yaitu “berilmu serta cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya” hal ini juga menjadi alasan yang sangat penting bahwa harakah (gerakan) PMII harus mengembalikan dirinya pada gerakan intelektual. Karena selain sebagai misi dari setiap warga pergerakan, gerakan intelektual juga merupakan kewajiban dari setiap insan yang bernama Umat MUHAMMAD SAW. Oleh sebab itu PMII kemudian menempatkan Ulul Albab sebagai Eka Citra Diri PMII yang pemahamannya sangat luas.

Gerakan Intelektual saat ini banyak sekali macamnya dan dapat dilakukan di PMII salah satunya dengan membangun budaya membaca, diskusi, mengkaji berbagai persoalan,membuat penelitian, membudayakan menulis dan lain-lain. Hal itu menjadi salah satu bagian kecil yang harus dikembalikan dan ditradisikan di PMII.

Pentingnya hal tersebut karena fakta sejarah mengatakan bahwa gerakan besar dan perubahan yang besar di dunia ini, lahir dari teori, pengetahuan dan pemikiran-pemikiran yang besar. Dari orang-orang yang mempunyai komitmen intelektual dan kemudian diaplikasikan pada dunia yang nyata. Dan PMII harus melakukan hal itu juga.
Terakhir Tulisan ini hanya buah pemikiran yang lugas dan baru saja lewat dalam benak dan pemikiran saya. Apabila ada kekeliruan dan kesalahan maka itu murni kesalahan dan kekurangan penulis.

Wallahu A’lam bis-shawab

Oleh.Ach. Zahid

* merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura, sekaligus Kader PMII dan Pengurus Rayon As-Shiddiq Komisariat Universitas Trunojoyo Madura.

Gelombang Zaman


Gelombang Zaman

Perjalanan zaman.
Semakin bergelombang jalan yang di tempuh.
Serpihan kelikir  bertaburan enotori jalanan.
Aspal tak lagi menghitam.
Dupenuhi debu yang penuh dosa..
Penerus bangsa banyak yang lupa.
Siapa dirinya.
Dan dimana ia tinggal.
Tak lagi mengenal pengorbanan.
Tak lagi mengenal kemaslahatan.
Kebatilan selalu terimplimentasikan mengotori jalanan.
Dalam benak bangsa bersemayang akan pertanyaan.
Ada apa dengan bangsa ini ?
Semua hanya sandiwara.
Pejuang hanya berupa tangisan, tiada lagi gerakan.
Rakyat kumuh penuh luka.
Jalan dan gedung penuh kedzoliman.
Tak sadarkah mereka ?
Bangsa ini menangis walau tak berair mata.
Darah yang tertumpah di bumi pertiwi.
Hanya menjadi sebuah alas sang kaki pendusta..

#Hanya mengabadikan saja

Karya : Moh. Mukti

Jumat, 15 September 2017

Antara Maestro Coffee dan Sekret PMII


“Ketahuilah, hal-hal terindah di dunia ini terkadang tak bisa terlihat dalam pandangan atau teraba dengan sentuhan; mereka hanya bisa terasakan dengan hati.”
Helen Keller, Penulis Tuna Wicara-Netra AS (1880-1968)

Tiada yang tahu pasti asbabun nudzul mengapa sebuah coffe lokasinya serta-merta berdempetan dengan sekret PMII.Mungkin itu terjadi secara kebetulan, tetapi mungkin juga memang telah direncanakan. Tetapi mari kita coba lupakan soal kebetulan dan mencari kebenaran filosofisnya lebih jauh.

Kedekatan antara sekret PMII dan Maestro Coffee (itulah nama coffee yang betul-betul kami hafal) mendorong 'imaji kolektif' pada suatu pemahaman yang bertumpu di titik persinggungan antara semangat pergerakan dan spirit intelektualitas . Sekret PMII, adalah tempat sakral dimana semua kegiatan-kegiatan "Rahmatan lil 'alamin" bermula. Maestro Coffee juga demikian, sebuah tempat dimana  "Magis Amica Varitas"-nya para intelektual muda menampakkan nyali inovatifnya. Keduanya memilki kesamaan secara diametral yang kental, dan sungguh sayang jika momentum kedekatan tersebut tidak dimanfaatkan.

Sayangnya, kedekatan keduanya acapkali terpisah oleh sekat-sekat kepentingan individualistis yang enggan berusaha memposisikan lokasi ini pada satu tujuan, kebaikan. Ada yang fokus ngopi tapi enggan mengunjungi sekret. Ada yang kelamaan di sekret lalu lupa menemui sahabat-sahabatnya di coffee. Dua kondisi ini rentan terjadi walaupun tidak selalu terjadi. Ini hanya analisis saya.

Kedekatan --lebih inten dipahami--memiliki elemen psikologis yang berupa rambu-rambu reciprokal  dan memiliki makna-makna. Makna kedekatan jika diibaratkan dengan sepasang kekasih maka akan timbul "kerinduan tiada tara" bila hati keduanya tak lagi berdekatan atau jauh. Iya, bukan ? Hehe

Hari ini, begitu banyak permasalahan yang bangsa hadapi. Ekonomi yang menukik tajam, kemiskinan yang mengakar subur, politik yang semakin menampakkan muka serigala berbulu domba-nya, lembaga pendidikan yang menjelma ladang komersialiasi untuk mencapai ketenaran semata, praktik korupsi pun meramaikan bursa transfer "kekuasaan dan keterpurukan". Sketsa buram yang sangat memprihatinkan yang terjadi di negeri ini. Ditambah lagi fenomena-fenomena di tingkat lokal tersendiri, khususnya di Bangkalan Madura.

Pertanyaan yang akan mencuat, "Apa yang hendak kita konsep dan lakukan bersama untuk mengatasi masalah tersebut diatas ?", atau "Bisakah semua permasalahan itu terpecahkan ?" Saya tidak akan menjawab pertanyaan diatas, tapi saya mengajak semua sahabat-sahabati untuk berkontemplasi.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang merupakan organisasi kemahasiswaan terbesar dan dihuni oleh Mahasiswa terbaik bangsa ini, tentu bisa mengatasi kecamuk masalah bangsa yang terus menjadi-menjadi. Bagaimana caranya ? Nah, Diskusi yang matang menyusun konsep pergerakanlah yang dibutuhkan. Ada yang bilang "Konsep tanpa eksekusi adalah kosong, eksekusi tanpa konsep adalah mimpi buruk", pernyataan ini benar adanya dan saya sangat sepakat.

Mengapa sekret PMII dan Mestro Coffee berdekatan ? . Saya lupa memberikan kejelasan, maafkaaan.. Hemat saya tidak ada kedekatan yang sia-sia, kesemuanya punya "maqhasid". Lalu apa sebenarnya filosofi kedekatan sekret PMII dan Maestro Coffee ? Jika dibaca secara jeli, maka sebenarnya pernyataan ini sudah terjawab. Namun izinkanlah saya mempertegas dengan yang sederhana

"Maestro Coffee tempat orang-orang hebat berdiskusi. Sekret PMII tempat orang-orang hebat beraksi. Jika keduanya saling berkolaborasi, percayalah Mahbub Djunaidi pun akan mengapresiasi"

(Bangkalan, Sabtu 16 September 2017)

Karya Kharul Amin (Kader Rayon Al-Amien)

Kamis, 14 September 2017

Ke-PMII-an dan Strategi Pemetaan Politik Kampus


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia angkatan 2016 mengundang Ketua Cabang PMII Bangkalan sahabat Bahiruddin sebagai pemateri dalam kajian rutin, tadi malam di taman kampus. Kajian tersebut mengambil tema  tentang "Ke-PMII-an dan Strategi Pemetaan Politik Kampus"  sebagai upaya untuk menanamkan jiwa PMII-isme pada sahabat-sahabati angkatan 2016 dalam rangka konsolidasi solidaritas internal PMII serta bagaimana langkah perjalanan PMII ke depan guna menghadapai konstelasi politik kampus.

Sekitar jam 19.00 WIB kajian dimulai, dipimpin oleh sahabat Khairul Amin sebagai moderator. Kajian sederhana tersebut diikuti dengan penuh antusias oleh sahabat-sahabati angkatan 2016. "Saya  datang jauh-jauh dari  desa Kokop untuk menghadiri panggilan dari kalian, sahabat-sahabati angkatan 2016 " tegas sahabat Bahiruddin. Pernyataan tersebut memberikan suntikan luar biasa betapa semangat keorganisasian perlu dicontoh oleh  sahabat-sahabati.

Karena terbatas oleh waktu berhubung sahabat Bahir memiliki agenda penting ke Sidoarjo. Pembahasan tadi malam terselenggara dengan cepat namun akurat. Sebelum memasuki inti pembahasan, sahabat Bahiruddin bercerita seputar pengalaman hidupnya selama di kampus mulai dari ketika beliau menjabat sebagai Ketua DPM Fakultas Hukum UTM hingga menjadi Ketua Cabang PMII Bangkalan. "Hanya orang-orang yang bertahan di Organisasi yang akan jadi pemenang sejati" begitu pesan sahabat Bahiruddin. "Sekarang ketika masih di kampus mungkin kalian belum merasakan nikmatnya ber-PMII, namun kalian akan merasakan bahwa yang tidak ikut PMII akan menyesal di kemudian hari" lanjutnya.

Selain membahas seputar politik kampus, tak lupa kajian tadi malam juga menyinggung masalah materi kuliah. Pada muaranya, Sahabat Bahiruddin menyarankan untuk membentuk klub diskusi guna membahas seputar data atau isu hukum yang lagi nge-hits.  "Anak hukum tapi tidak tau isu atau fakta hukum, kan lucu. Taunya cuma buat status alay di facebook ?" Tutur sang aktivis yang baru menyandang gelar S.H tersebut disambut tawa dari sahabat-sahabati.

Kajian tadi malam berakhir disekitar jam 21.00 WIB. Kajian ditutup setelah sesi tanya jawab dari sahabat-sahabati. "Bumbu organisasi adalah komunikasi,  inten menjaga komunikasi  maka semakin sukses organisasi itu berjalan". Pesan penutup beliau. Masih banyak sebenarnya penjelasan  yang disampaikan namun tidak sempat dituliskan. Semoga kajian ini terus berlangsung rutin dan PMII semakin maju kedepannya (an/PMII)

Penulis Khairul Amin (Kader Rayon Al-Amin

Jumat, 25 Agustus 2017

MAPABA Rayon Al Amien Jilid I


Ketua Komisariat Pmii Utm sahabat Mohammad Ruli saat menghadiri pembukaan sekaligus mengisi Materi ke-PMII-an pada acara MAPABA Jilid 1 Pmii Rayon Al-Amien Fakultas Hukum UTM


Mapaba PMII UTM

Mapaba PMII UTM Mantapkan Karakter Kepemimpinan

Bangkalan – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Al-Amien Komisariat Universitas Trunojoyo Madura (UTM) betul-betul memerhatikan pentingnya leadership. Untuk itu, Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) jilid 1 yang diadakan organisasi tersebut mengetengahkan tema “Memantapkan Idealisme dan Karakter Kepemimpinan Melalui PMII”.
Dalam kegiatan tersebut hadir Ketua Rayon PMII se-Bangkalan dan didampingi Oleh Ketua Komisariat UTM sahabat Moh. Ruli, Ketua Cabang Sahabat Bahiruddin, Ketua Garda Bangsa, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Sahabat Firman Akbar, Presiden Mahasiswa sahabat Arifin dan Wakil Presiden Mahasiswa Sahabat Taufik Hidayah.
Mapaba kali ini berbeda dengan tahun sebelum-sebelumnya. Jika pemateri tahun sebelumnya dari alumni PMII, kali ini pematerinya dari Pengurus Komisariat PMII UTM. Tujuannya, guna membentuk hubungan emosional antarjunior dan senior lebih mapan.
Ketua panitia sahabat Rofiqin mengungkapkan, Mapaba kali ini diikuti oleh 40 peserta. Mereka merupakan mahasiswa baru Fakultas Hukum UTM. Kegiatan ini berlangsung sejak Jumat (25/8) pukul 19.00 sampai Minggu (27/8) mendatang.
Dalam sambutannya, Ketua Rayon sahabat Misbahul Munir berharap besar dengan diadakannya Mapaba mampu mencetak kader yang idealis dan berkarakter pemimpin yang kokoh spritual, mapan intelektual, dan manfaat nyata bagi NKRI.
“Saat ini, Indonesia membutuhkan sosok kader dan pemimpin yang tangguh, bertanggung jawab terhadap hablun minannas wahablum minallah. Itu sesuai dengan ruh PMII sendiri sebagai organisasi yang bersifat keagamaan, kemasyarakatan, kemahasiswaan dan kebangsaan,” ucap Ketua Komisariat utm Sahabat Moh. Ruli l.
Sementara itu, Ketua Cabang sahabat Bahiruddin berpesan kepada para aktivis PMII agar tidak lama-lama di kampus.
“Sekalipun kalian aktivis, harus lulus tepat waktu,” tegasnya.

Reporter: Halimi
Redaktur: Sule Sulaiman